Pameran Filateli
Dilindas Internet dan Telepon, Filateli di Indonesia Minim Peminat
Rabu, 05 Oktober 2011 20:56 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--Ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap perangko menurun hingga 20 persen terhitung dari awal tahun 2000-an, kata Ginanjar, perwakilan dari Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) regional Jawa Barat, di Bandung, Rabu.
Ginanjar mengatakan dalam pameran "Bandung Stamps dan Numismatic Show 2011" yang berlangsung sejak 3 hingga 9 Oktober di Bandung Indah Plaza (BIP) lantai 2, Bandung. "Kita sempat mencapai kejayaan dalam hal filatelis pada tahun 1996. Namun memasuki awal 2000, peminatnya langsung berkurang," kata Ginanjar.
Salah satu penyebab turunnya angka peminat perangko, menurut Ginanjar, diakibatkan oleh teknologi yang semakin canggih, sehingga memungkinkan para pengguna untuk beralih ke media yang lebih praktis dan mudah seperti telepon bahkan internet.
"Dulu orang masih ramai menulis surat untuk teman dan kebarat. Semenjak ada telepon genggam disusul internet, orang-orang kemudian meninggalkan surat. Nah disitulah ketertarikan terhadap perangko juga menurun," katanya.
Dalam pameran tersebut, pengunjung bisa melihat replika prangko pertama di dunia, yaitu prangko "The Penny Black" yang dibuat pada tahun 1840 di Amerika Serikat. Selain itu, ada pula prangko pertama di Indonesia, yaitu "King Willem III" yang dibuat pada tahun 1864 oleh bangsa Belanda.
"Pengunjung juga bisa melihat salah satu koleksi prangko termahal di dunia, yaitu prangko "Inverted Jenny" yang dibuat di Amerika Serikat pada 1918 dan dihargai senilai 28 Miliar rupiah," kata Ginanjar.
Dalam kesempatan ini, PT. Pos Indonesia juga meluncurkan Prangko Seri Kain Tradisional Lengkap dari 33 Provinsi di Indonesia dan Edisi Khusus Indonesia 2012.
Ginanjar mengatakan dalam pameran "Bandung Stamps dan Numismatic Show 2011" yang berlangsung sejak 3 hingga 9 Oktober di Bandung Indah Plaza (BIP) lantai 2, Bandung. "Kita sempat mencapai kejayaan dalam hal filatelis pada tahun 1996. Namun memasuki awal 2000, peminatnya langsung berkurang," kata Ginanjar.
Salah satu penyebab turunnya angka peminat perangko, menurut Ginanjar, diakibatkan oleh teknologi yang semakin canggih, sehingga memungkinkan para pengguna untuk beralih ke media yang lebih praktis dan mudah seperti telepon bahkan internet.
"Dulu orang masih ramai menulis surat untuk teman dan kebarat. Semenjak ada telepon genggam disusul internet, orang-orang kemudian meninggalkan surat. Nah disitulah ketertarikan terhadap perangko juga menurun," katanya.
Dalam pameran tersebut, pengunjung bisa melihat replika prangko pertama di dunia, yaitu prangko "The Penny Black" yang dibuat pada tahun 1840 di Amerika Serikat. Selain itu, ada pula prangko pertama di Indonesia, yaitu "King Willem III" yang dibuat pada tahun 1864 oleh bangsa Belanda.
"Pengunjung juga bisa melihat salah satu koleksi prangko termahal di dunia, yaitu prangko "Inverted Jenny" yang dibuat di Amerika Serikat pada 1918 dan dihargai senilai 28 Miliar rupiah," kata Ginanjar.
Dalam kesempatan ini, PT. Pos Indonesia juga meluncurkan Prangko Seri Kain Tradisional Lengkap dari 33 Provinsi di Indonesia dan Edisi Khusus Indonesia 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar